19.1.10

PERTAHANKAN PANCASILA

Sekalipun mengakui kemutlakan Pancasila sebagai azas yang mempersatukan tampaknya keinginan negara ini, untuk mengembalikan Pancasila sebagai azas tunggal, masih menjadi keraguan para politisi di Indonesia. Hal sangat berbeda dengan para pemuka agama yang giat dalam memperjuangkan kebersamaan dalam keberagamaan keberagamaan di negara ini.
Keraguan hal tersebut menurut Emmy Sahertian, Ibu Pendeta yang giat dalam gerakan kebersamaan dalam berkeyakinan di Indonesia, ini sepertinya telah menjadi masalah dalam masyarakat Indonesia.

“Istilah azas tunggal bagi Pancasila, membuat orang alergi,” begitu penuturannya.

Pendeta Emmy berpendirian sama dengan kebanyakan orang di Indonesia bahwa, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini, Pancasila adalah satu-satunya dasar bagi keberagaman hidup di negara ini.
“Pancasila tidak bisa dipisahkan dari UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika,” begitu tandasnya.

Dalam kehidupan berbangsa bernegara ini, eksistensi azas negara Pancasila, pada masa sekarang ini berada ditangan para legislator yang terpilih. Dan rumor keinginan beberapa Partai berazaskan agama untuk menggeser keberadaan Pancasila, perlu dipastikan. Lukman Hakim Syaefuddin, kader dari Partai Persatuan Pembangunan, menyatakan bahwa, Pancasila sebagai dasar negara adalah final! Namun menurutnya dalam keseharian, masyarakat di Indonesia boleh saja menjalankan azas-azas yang lain, yang diyakininya.
“Tidak usah dipaksakan, sejauh tidak bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila,” demikian Ketua Fraksi PPP DPR RI menjelaskan. Pernyataannya ini memang lebih mengarah pada kebebasan penerapan perundang-undangan yang disesuaikan dengan keinginan masyarakat lokal suatu daerah.

Karena mungkin saja perjuangan penerapan hukum-hukum agama oleh politisi partai-partai agama, pada tataran perundang-undangan di daerah. Kader Partai Demokrat Hayono Isman, mengusulkan untuk tidak menggunakan kata azas tunggal, lantaran berkesan adanya pemaksaan seperti pada masa pemerintahan Orde Baru.
“Yang tepat bukan azas tunggal tetapi azas bersama,” begitu ungkapnya. Bagi Hayono Pancasila sangat berjasa bagi bangsa Indonesia, bila kita melihat apa yang pernah terjadi dengan negara yang terpecah-pecah setelah menerima iklim keterbukaan. “Pancasila berperan sangat besar karena berfungsi sebagai perekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” begitu tambah Hayono mengingatkan.

Menurut Samsidar Siregar kader Partai Amanat Nasional, persoalannya bukan azas tunggal tetapi bagaimana kemanunggalan Pancasila menjadi manisfestasi bagi semua orang
“Serta ada rasa pertanggunjawaban bahwa sila ke 1 sampai sila ke 5 mengandung makna mendalam,” demikian Samsidar.

Ia mengarahkan dengan harapan agar tidak ada lagi tindakan-tindakan yang tidak baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kelompok-kelompok masyarakat tertentu.
“Perlu dikembalikan pencitraan terhadap Pancasila sebagai tolak ukur bagi kemakmuran bangsa Indonesia secara keseluruhan” begitu Samsidar menyatakan.

Sejalan dengan Hayono Isman, tokoh masayarakat di Jawa Barat, K.H Maman Imanul Haq, menyatakan bahwa, Pancasila adalah memang perekat yang efektif bagi seluruh entitas yang ada di Indonesia.
“Pancasila sangat penting untuk dipertahankan, dihayati, dan diamalkan untuk menguatkan kembali nilai-nilai kebangsaaan dan kebernegaraan kita.”                                                                                     ath/konstantin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.