10.2.11

Anti Kebhinekaan Mengancam Persatuan

Kerusuhan dan kekrisuhan yang terjadi beberapa hari di awal bulan kedua tahun 2011 ini, menuai respon tentang ketidak sigapan dan kesiapan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dalam memberikan keamanan dan kenyamanan masyarakat di negeri ini. Kerusuhan yang dipicu kepentingan keimanan ini bergulir beruntun, seolah tidak ada lagi penghargaan terhadap Kebhinekaan, yang sebenarnya adalah dasar dalam membentuk dan membangun negeri ini.
Kenyataan yang pedih ini harus diterima, sebagai hari penghinaan bagi semangat saling menghargai hak yang dimiliki sesama anak negeri ini. Kenyataan itu menorehkan adanya kembali pembantaian terhadap kelompok yang berbeda keyakinan, yaitu kelompok Jemaah Ahmadiyah. Pembantaian yang belakang diketahui bukan dilakukan warga setempat ini, terjadi di Cikeusik, Pandegelang, Banten. Peristiwa ini menelan korban meninggal dunia sebanyak 3 orang dari pihak Jemaah Ahmadiyah yang diserang oleh ribuan orang ini, meninggal dunia. Peristiwa yang terjadi pada hari minggu tanggal 6 Februari 2011.

Selain peristiwa yang terjadi di Cikeusik tadi, terjadi juga peristiwa lain yang  juga menyentuh sendi dasar pembentuk negara Indonesia ini. kalau Peristiwa  Cikesik  terjadi pada Hari Minggu maka, peristiwa ini terjadi dua hari kemudian, tepatnya pada Hari Selasa tanggal 8 Februari. Pada peristiwa itu terjadi pembakaran 2 gereja dan pengrusakan terhadap 1 gereja. Peristiwa yang dipicu keputusan pengadilan, terhadap seorang yang menjelekan-jelekan beberapa agama di Indonesia itu, terjadi di Temanggung, jawa Tengah. Beberapa tokoh masyarakat menilai, terjadinya pengrusakan itu akibat dari kelambanan kerja para aparatur keamanan. Akibatnya peristiwa ini merugikan terhadap simbol-simbol keagamaan.

Padahal bila dicermati, pengadilan terhadap penghinaan keagamaan itu,  tidak memiliki alasan kuat untuk dijadikan alasan pembakaran dan pengrusakan terhadap bangunan gereja. Apalagi bila melihat penghinaan yang dilakukan terdakwa yang bernama Antonius Bawengan, kelompok Katholik yang juga mendapat hinaan dalam buku yang disebarkan terpidana . Namun demikian, Umat Katholik setempat ternyata juga mengalami pembakaran rumah ibadahnya. Dan peristiwa yang terjadi dan bisa saja akan berlangsung  lagi itu, menunjukan kelemahan pemerintahan saat ini, yang tampaknya justeru tengah menjadi bulan-bulanan kelompok anti Kebhinekaan di Indonesia.

Beberapa tokoh keagamaan yang tetap setia pada kehidupan keberagaman di Indonesia secara aktif terus membangun dan mengembangkan kehidupan bertoleransi di tengah-tengah masyarakat. karena yang perlu kita sadari sebagai bangsa yang berkemajemukan adalah, saat ini kelompok masyarakat yang berkebhinekaan sedang berhadapan dengan kelompok yang anti dengan kebhinekaan. ath/konstantin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.