23.9.11

Kristen di Palestina

Masih mengenai kehidupan masyarakat Kristen di negara-negara Timur Tengah, guna membuka mata masyarakat Kristen di Indonesia yang masih memandang masyarakat di negara-negara timur tengah dengan cara lama, yaitu menurut informasi yang berdasarkan kepentingan pimimpinan kelompok baik kelompok politik atau kelompok keagamaan. Dengan artikel ini, kami berharap bisa lebih jernih dan objektif terhadap masyarakat di negara-negara timur tengah, terutama masyarakat arab. KONSTANTIN untuk edisi ini menghidangkan informasi tentang masyarakat Kristen timur tengah di Palestina.

Palestina hingga tahun 2011, merupakan daerah yang dipersengketakan bangsa Arab setempat dengan Pemerintahan Negara Israel. Dari wilayah daratan, Palestina terpisah dua wilayah yaitu, West bank atau Tepi Barat dan Gaza Strip atau Jalur Gaza. Terpisahnya keberadaan juga memisahkan kehidupan masyarakat Palestina, termasuk masyarakat Kristen di Palestina. Daerah yang disebut sebagai Palestian, menurut BBC London, baik itu Tepi Barat atau pun Jalur Gaza, Palestina memiliki populasi sebanyak 3.76 juta jiwa. Seperti kebanyakan negara-negara Arab, wilayah-wilayah Palestina baik Gaza atau pun wilayah Tepi Barat memiliki penganut Islam terbanyak dari masyarakatnya, sebanyak 75% dari seluruh penduduk. Agama Kristen di Palestina saat ini terus mengalami peningkatan, sejalan dengan makin kondusifnya wilayah Tepi Barat.

Setelah Almarhum Pemimpin Palestina Yaser Arafat mengakui keberadaan negara Israel, keadaan daerah itu menjadi lebih stabil dan kehidupan masyarakatnya. Dan tentunya juga menggerakan banyak pengungsi kembali ke Tepi Barat. Namun demikian, hal yang sebaliknya terjadi di Jalur Gaza, di mana daerah yang masih terisolir ini memberlakukan hukum Islam sebagai hukum wilayahnya, hingga Masyarakat Kristen di daerah ini dibatasi dalam kehidupan keagamaan. Sempat tercatat di kedua wilayah ini, jumlah masyarakat Kristen di Palestina menurun. Catatan itu didapati sejak berkecamuknya konflik, kemerosotan ekonomi dan tingkat kelahiran rendah. Pemimpin Kristen di wilayah-wilayah Palestina mengakui bahwa munculnya Islam radikal di wilayah Gaza menumbuhkan tekanan signifikan terhadap masyarakat Kristen.

Masyarakat Kristen di Palestina menurut situs Wikipedia, mudah dijumpai di kota Betlehem dan Ramallah, Nazareth, dan Jericho. Masyarakat Kristen Palestina berbahasa Arab, karena memang masyarakat Kristen Palestina adalah orang-orang Arab asli Palestina. Mereka adalah jemaat yang berasal dari Gereja-gereja Ortodoks Timur, Gereja Katolik Timur Melkit, Gereja Katolik Barat, Katolik Armenia, Gereja Protestan, Gerja Maronit, Gereja Yakobit, Gereja Koptik Ortodoks, Gereja Katolik Koptik, Gereja Metodis, Gereja Presbiterian, Gereja Anglikan Episkopal, Gereja Lutheran, Gerja Evangelis, Gereja Pentakosta, Gereja Nazaret, dan Protestan lainnya.Kemudian juga gereja bangsa-bangsa seperti Gereja Kasdim, Gereja Syria, Gereja Yunani, Gereja Ethiopia, Gereja Armenia dan gereja bangsa-bangsa lainnya.

Dari seluruh penduduk Palestina, sekitar 4% adalah masyarakat Arab yang menganut Kristen. Penduduk Palestina kebanyakan tinggal di Tepi Barat dan bukan di Gaza. Oleh sebab itu, secara umum hubungan masyarakat Islam dan masyarakat Kristen sangat erat. Banyak tokoh-tokoh masyarakat Palestina yang berasal dari masyarakat Kristen. Dan di kehidupan sehari-hari, masyarakat Kristen memiliki panggilan baik dalam bahasa Arab Palestina atau pun bahasa Arab klasik dan juga bahasa Arab gaul. berbagai sebutan itu antara lain; Nasrani atau al-Nasira karena menganut ajaran Yesus yang berasal dari Nazaret. Atau juga dengan sebutan Masihi yang merujuk sebagai orang-orang yang mengikut Mesias, dan terakhir disebut Subba yang berarti orang-orang Baptisan.

Selain berasal dari Arab asli Palestina, ada juga masyarakat Kristen di Palestina yang berasal dari keturunan bangsa Asia Selatan, Asia Tengah, Asia timur, Asia Tenggara, bahkan Eropa dan Amerika Latin. Selain itu bisa dipastikan masyarakat Kristen di Palestina juga ada yang berdarah campuran anatar Arab Palestina dengan seperti Armenia, dengan bangsa Yahudi yang beragama Kristen, perkaminan Arab-Eropa yang terjadi sejak zaman Byzantium, suku Ghassanids, dan yang lainnya. Juga terdapat data yang menyebutkan bahwa, selain 4% di tanah Palestina, masyarakat Arab Kristen asli Palestina juga banyak yang tinggal di luar Tanah Palestina, atau bahkan yang terbanyak ada di luar Timur Tengah.

Negara-negara di Amerika Selatan, terutama Chili adalah negara yang menampung paling banyak orang-orang Arab Kristen asal Palestina. Mengambil laporan The Independent, situs Wikipedia memaparkan bahwa, ribuan masyarakat Arab Kristen Palestina beremigrasi ke Amerika Latin pada tahun 1920. Saat itu, Palestina dilanda kekeringan dan depresi ekonomi yang parah.Selain Chili masyarakat Arab Kristen Palestina juga menyebar ke negara-negara Amerika Latin seperti El Salvador, Honduras, Brasil, Kolombia, Argentina, dan Venezuela. Dari penelusuran banyak media, masyarakat Arab Kristen dari Palestina yang ada di Amerika Latin ini berasal dari Beit Jala, Bethlehem, dan Beit Sahur

Di muka bumi ini Yordania adalah negara kedua terbanyak setelah Chilli yang menampung orang-orang Kristen di dunia. Dan negara-negara lain yang terdeteksi menampung masayarakat Arab Kristen asal Palestina adalah Australia, negara-negara Eropa Timur, Kanada, dan beberapa negara Arab serta Afrika. Dan negara-negara terakhir yang disebutkan adalah masyarakat Arab Kristen yang terpaksa keluar dari rumah dan tanah mereka, sehubungan dengan pengusiran tentara Yahudi Israel pada tahun 1948, karena tanah itu akan digunakan Israel untuk Yahudi di dunia yang datang ke tanah Palestina.Peperangan berkepanjangan ini juga tidak menguntungkan masyarakat Arab Kristen di Palestina. Kerena selain sebagai pembawa damai yang terpercaya di tengah perang, masyarakat Kristen di Palestina sering dijadikan kambing hitam atau tumpuan amarah dari kalangan Islam radikal dan Yahudi Radikal di tanah Palestina.

Perang yang meltus pada tahun 2009 di Gaza, mengakibatkan tiga gereja rusak karena bom pesawat Israel. Gereja-gereja itu adalah Gereja Baptis, Gereja Ortodoks, dan Gereja Katolik. Dan akibat serangan Israel itu juga, Orang-orang Islam yang marah pada Yahudi, menumpahkan amarahnya kepada masyarakat Arab Kristen di Jalur Gaza. Hal ini pun langsung dikecam oleh para pimpinan Palestina, baik itu dari Fatah ataupun juga Hamas. Perlu juga diingat bahwa, peperangan dan pengusiran orang-orang Palestina dari rumah dan tanah mereka, sangat berpengaruh terhadap jumlah orang-orang Kristen di Tanah Palestina, baik itu di negara Israel atau pun di Palestina, masyarakat Arab beragama Kristen selalu menjadi jembatan dialog perdamaian, dan para politis atau pun para pemimpin Agama Kristen selalu dipercaya sebagai orang-orang yang membawa damai ditengah kancah pertempuran.

Dan akhirnya masyarakat Kristen Indonesia juga perlu mengetahui bahwa beberapa Arab Kristen di Palestina adalah memegang posisi penting di wilayahnya. Misalnya, Walikota Kota Ramallah, yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Palestina, yang bernam Birzeit, adalah seorang Arab Kristen. Begitu juga dengan Gubernur Betlehem, Zababdeh, Gubernur Nazaret, Jifna, Gubernur Ein 'Arik, Aboud, Gubernur Taybeh, Beit Jala dan Beit Sahour adalah Kristen. Gubernur Tubas, Marwan Tubassi, adalah seorang Kristen. Bahkan juga perlu kita ingatkan kembali bahwa, Suha Arafat yaitu janda Presiden Palestina Yasser Arafat dan mantan ibu negara, adalah Kristen.

Mantan perwakilan Pemimpin Palestina di Amerika Serikat, Afif Saffieh, duta besar Palestina di Prancis, Hind Khoury dan banyak lagi. Bahkan sang kapten kesebelasan Tim sepak bola wanita Palestina, Madu Thaljieh, juga beragama Kristen. Jadi banyak sekali pejuang Palestina yang beragama Kristen yang adalah juga bagian dari kekayaan perjuangan masyarakat Palestina. Jerusalem yang sekarang didominasi Yahudi, sebelum Perang Arab-Israel 1948, 51% -nya adalah Masyarakat Arab Kristen di Palestina, dan merupakan markas perjuangan Kristen terhadap gempuran Israel terhadap Palestina. namun saat ini masyarakat Kristen di Yerusalem, baik itu Palestina ataupun Israel, telah dirusir dari Yerusalem dan kehilangan rumah mereka, demikian papar sejarawan Sami Hadawi dalam wikipedia. ath/konstantin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.