28.1.12

Kita Negara ke 3 Dunia Penyandang Kusta

*pemerintah hanya melakukan pendekatan sosial

Setelah tercatat sebagai negara urutan ke lima sebagai negara yang kekurangan gizi, kini Indonesia tercatat sebagai negara urutan ke tiga untuk kasus kusta setelah India dan Brasil. Dr. Christina Widaningrum menyatakan bahwa masih ada 17 ribu kasus baru setiap tahun di Indonesia. Data WHO di tahun 2010 menyebutkan ada 17.012 kasus kusta di negara yang sering mengumandangkan keberhasilan kesejahteraan masyarakatnya. Untuk catatan buruk pada penanganan kesehatan ini, pemerintah baru berniat
menekan angka tersebut yang dimulai dengan pendekatan sosial bukan pendekatan kesehatan.

Christina sebagai Kasubid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes mengutarakan hal tersebut dalam acara temu media di kantornya, pada Hari Jumat tanggal 27 Januari 2012 yang lalu. Untuk Indonesia sendiri kasus yang baru bisa tercatat adalah Jawa Timur sebagai kasus sebanyak 4.653 kasus. Kemudian Jawa Barat dengan 1.749 kasus dan ketiga Jawa Tengah yang mencatat (1.740 kasus). Dari catatan kesehatan yang memalukan ini, pemerintah baru berniat melakukan beberapa tindakan di tahun 2012 ini. Seperti mengintensifkan penemuan kasus kusta, yang kali ini akan lebih banyak diberikan di daerah Timur Indonesia. Sosialisasi kepada masyarakat dan pemda dan pelatihan penanganan masalah kusta juga akan menjadi kegiatan kali ini.

Menurutnya hal ini bisa menekan jumlah penderita kusta menurun hingga 35 % dari angka tahun 2010 pada tahun 2015 nanti. Namun untuk saat ini dari catatan buruk ini, Kemnkes ini hanya bisa mengalihkan dengan pendekatan sosial, yaitu cara menghilangkan stigma-stigma negatif terhadap penderita dan mantan penderita kusta oleh masyarakat. Tujuannya adalah agar penderita dan mantan penderita kusta dapat hidup mandiri. Bukan hanya masyarakat, beberapa pekerja kesehatan menjadi tertuduh yang melahirkan stigma terhadap kusta pengidap kusta tapi juga kepada keluarganya dari penderita dan mantan penderita kusta. Dan rencana bisa bisa menmanfaatkan momentum Hari Kusta yang pada tanggal 29 Januari 2012 ini mengambil tema “Berdayakan Orang yang Pernah Mengalami Kusta Agar Mandiri”.

Menurut Christina, pekerja medis di beberapa tempat masih suka melakukan penolakan dalam menangani penderita kusta. “Bahkan, petugas kesehatanpun melakukan tindak diskriminasi dan penolakan,” ungkap Christina. ”Seharusnya ini tak boleh terjadi," lanjutnya menambahkan. Selain pendekatan sosial itu, pemerintah baru akan meningkatkan aksi pengobatan sedini mungkin bila menemukan kasus baru. Bila hal ini terjadi, maka pemerintah akan berhasil menekan tingkat kecacatan akibat kusta. Data terakhir Kemenkes sendiri menyebutkan bahwa, pada triwulan ke tiga tahun 2010 angka cacat tingkat II akibat kusta di Indonesia sebesar 10,37%.

Data yang diutarakan oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kemekese, Tjandra Yoga Aditama pada tanggal 28 Januari pada beberapa media itu, mendorong pemerintah menargetkan angka penurunan di tahun 2015. Berkaitan dengan itu Christina mengatakan bahwa, target global pada 2015 dalam menurunkan angka cacat tingkat 2 per 100.000 penduduk adalah hingga 35% dibanding 2010 lalu. Dan berkaitan dengan hal ini Menurut Christina dibutuhkan komitmen yang kuat dari tenaga medis untuk menangani penyakit kusta, baik secara medik maupun memberikan informasi dan edukasi kusta kepada masyarakat. rpkfm/ath/konstantin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.