27.5.10

Pro-Kontra Kanker Akibat Telepon Genggam

Komunikasi dengan telepon genggam sangat populer di banyak negara di muka bumi ini. namun telah berlangsung sejak memasuki tahun 2000, dampak medis dari penggunaan telepon genggam ini dipertanyakan. Banyak penelitian yang menemukan dampak yang sangat berbahaya dari penggunaan telepon genggam. Namun ada juga hasil penelitian yang memaparkan hal yang sebaliknya. Dan pada perkembangan pro kontra tentang keberadaan ponsel ini terus berlanjut. Dan World Health Organization (WHO), merasa perlu adanya pernyataan terbaru tentang dampak penggunaan alat ini, sejalan dengan perkembangan produksi telepon genggam yang kian mekhtahir.

Baru-baru ini para peneliti mencermati para pengguna ponsel yang dalam kondisi sehat dan para pengguna ponsel yang mengidap kanker, yakni kanker otak.
Dan pada pengamatan tersebut, ada dua jenis kanker otak, yaitu tumor Glioma dan Miningioma. Pada pengamatan proses penelitian tersebut, pengguna telepon genggam yang paling sering menggunakan memiliki catatan laporan penelitian sebagai orang-orang yang memiliki risiko lebih besar mengidap kedua jenis kanker otak tadi. namun kemudian, para peneliti juga mengomentari catatan penelitian tersebut sebagai ''bias dan kekeliruan'' dalam penelitian, yang mencegah peneliti menarik hubungan sebab akibat. Bahkan sebagian data juga mengindikasikan secara keseluruhan penggunan telepon seluler memiliki risiko lebih rendah terkena kanker otak daripada orang yang tidak menggunakan telepon seluler.

Penelitian yang tidak disebutkan oleh berbagai media dunia ini, menurut para penelitinya metodologi pada penelitian ini bermasalah, yang pada akhirnya mereka sendiri berpendapat bahwa, temuan dari hasil penelitian mereka ini, tidak bisa diandalkan. WHO yang mengkoordinasikan penelitian ini mengatakan bahwa, pola penggunaan telepon genggam terbaru yang memiliki emisi lebih rendah, mendorong perlunya sebuah temuan baru tentang keberadaan kanker akibat penggunaan telepon genggam. Namun wartawan BBC, Imogen Foulkes di Jenewa mengatakan bahwa, sebagian ahli medis sepakat untuk menyatakan bahwa penelitian terakhir tersebut cacat, lantaran tim peneliti tersebut meminta para partisipan (orang-orang yang diteliti), dipaksa untuk mengingat seberapa sering dan seberapa banyak mereka menggunakan telepon seluler dalam 10 tahun terakhir.

Kecacatan lain juga ditemukan oleh kantor berita di Eropa lainnya, yang kali ini tentang pertanyaan penelitian yang juga diajukan ke kalangan industri telepon genggam. Memang agak mengherankan, bila partisipan penelitian diambil dari lingkungan yang memiliki subyektifitas tinggi. Namun akan menjadi tidak mengherankan karena kantor berita itu juga memaparkan kenyataan bahwa, kalangan industri telepon seluler juga menyediakan hampir seperempat dari dana penelitian tersebut.

Dan pro-kontra masih terus berlanjut. Hal ini ditandai dengan telah bergulirnya penelitian yang didaulat lebih besar mengenai dampak kesehatan pemakaian telepon genggam, yang menurut catatan BBC, penelitian tersebut melibatkan 250.000 orang yang berusia antara 20 dan 30 tahun. Dan penelitian ini telah digulirkan di Inggris pada bulan April tahun 2010 yang lalu.                                                     ath/bbc/afp/reuter/konstantin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.